Bedah Bisnis Air Minum Dalam Kemasan Le Minerale, Si Pesaing Terberat Dari AQUA

“Kayak ada manis-manisnya” apakah Anda ingat dengan kampanye air minum dalam kemasan tersebut yang suka bermunculan di televisi? Ya, dia adalah Le Minerale, produk yang mampu menghipnotis orang yang dahulunya penikmat AQUA dengan kampanyenya. Efek iterasi bermain dalam kampanye ini, di mana kalimat “kayak ada manis-manisnya” tersebut diulang-ulang secara terus menerus di telinga penonton iklan TV, pengguna sosial media, maupun pendengar radio.

Apa yang bisa kita pelajari dari kasus boomingnya produk Le Minerale di Indonesia? Bahkan berdasarkan hasil riset, pertumbuhan Le Minerale di tahun 2016-2017 mampu membuat pertumbuhannya meningkat pesat, berada di posisi ke-2 setelah AQUA. Apa yang dilakukan oleh Le Minerale sampai bisa memasuki pasar dan bertumbuh sebegitu masif? Market share atau pangsa pasar dari produk Le Minerale bahkan kini jauh lebih besar dibandingkan kompetitornya terdahulu seperti Amidis, Ades, VIT, Ron88, dll.

Berikut adalah strategi yang dilakukan oleh Le Minerale dalam menggebrak dunia air minum dalam kemasan di Indonesia :

  • Segi Kemasan Le Minerale Unik, Beda Dari Yang Lain

Tahukah Anda bahwa ada dua jenis kemasan, yaitu kemasan before sales dan kemasan after sales. Menurut Anda botol Le Minerale masuk ke kemasan jenis mana? Jika jawabannya kemasan before sales, selamat Anda benar! Kemasan before sales berpengaruh besar dalam proses pembelian. Keunikan dari segi kemasan menjadi hal yang sangat penting karena manusia adalah makhluk visual. Ketika orang melihat kemasan air minum yang berbeda dari yang lain, itu akan mengusik pikiran dan menggerakkan tangan mereka untuk mencobanya.

Apakah kemasan itu penting? Penting atau tidaknya itu semua bergantung pada bisnis modelnya. Ketika Anda membangun bisnis snack makanan ringan, seperti Dewa Eka Prayoga dengan Keripik Pisang Sang Dewa nya, mungkin Anda berpikir tidak perlu terlalu mementingkan kemasan yang penting rasanya enak. Tapi kenyataannya seseorang membeli suatu produk bukan hanya berdasarkan referensi, tapi mereka juga melihat kemasannya. Terlebih ketika produk tersebut dipasarkan melalui media sosial. Kemasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari brand Anda dan kemasan produk Anda mempengaruhi angka penjualan yang Anda dapatkan.

  • Kampanye “Le Minerale Segernya Beda, Kayak Ada Manis-Manisnya”

Bicara soal manis, itu adalah masalah rasa. Kampanye Le Minerale seolah berusaha mempersuasi orang lain untuk mencoba air minum yang ada rasa manis-manisnya.  Karena benak pendengar kampanye terganggu, merekapun berusaha membuktikannya dengan datang ke supermarket. Apakah benar manis seperti gula? Coba Anda rasakan sendiri! Kampanye yang terus diulang-ulang dan diperdengarkan di berbagai media membuat ketika Anda meminum Le Minerale seperti terasa ada manis-manisnya.

Jika Anda sudah merasakan rasa manis, itu berarti kalimat tersebut sudah berhasil mensugesti dan mempersuasi Anda agar mau membeli produk Le Minerale. AHHA Moment yang bisa Anda ambil adalah segera pelajari proses memasukkan sugesti ke pikiran bawah sadar orang lain karena itu penting. Untuk mendukung kampanye tersebut, Le Minerale juga berusaha membangun persepsi pelanggan melalui pemberian fasilitas kulkas khusus produk Le Minerale kepada beberapa penjual.

Proses kampanye dengan membangun persepsi ini sama seperti ketika Anda bingung mau menonton film apa saat menginjakkan kaki di Bioskop dan menemukan bahwa 5 dari 7 studio menayangkan Film A sedangkan sisanya Film B. Akhirnya Anda memilih menonton Film A seperti kebanyakan orang karena tertanam sugesti di pikiran Anda bahwa banyak adalah bagus. Contoh lain ketika Anda lebih memilih masuk ke Toko A daripada Toko B karena melihat banyaknya pengunjung. Anda tersugesti bahwa Toko A menjual produk yang lebih berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

  • Distribusi Produk Le Minerale Tersebar Luas Di Setiap Kota

Jika dahulu Anda mungkin mendapati pedagang asongan pinggir jalan hanya menawarkan produk AQUA, kini Anda bisa mendapati dengan mudah banyak dari pedagang asongan, warung pinggir jalan, mall, supermarket, bahkan sampai restoran yang menawarkan produk air minum Le Minerale. Produk Le Minerale ini tersebar begitu luas secara gerilya, itulah strategi growth hacking. Jika Anda ingin angka penjualan Anda tinggi, terapkanlah strategi ini. Lakukan proses perataan distribusi dan promosi produk, jangan sampai tidak seimbang pada salah satu sisi.

Pernahkah Anda berpikir mengapa workshop Dewa Eka Prayoga seperti Extreme Funneling, Product Launch Dynamite, atau Supersonic Copywriting, yang harganya 7-8 juta tetap bisa laku di pasaran bahkan sampai 200 peserta workshop dalam setiap sesinya? Itu karena Dewa tidak hanya memasarkan produknya melalui satu channel pemasaran, tapi memasarkan melalui berbagai channel seperti Facebook, Instagram, YouTube, Email, dll. Tapi sebelum promosi workshop besar-besaran, Dewa bersama timnya memastikan terlebih dahulu mulai dari efektivitas penyampaian informasi, kemampuan cetak modul, kekondusifan situasi di ruangan, dll.

Jadi pastikan distribusi produk Anda merata, karena jika tidak akan sayang sekali trafficnya. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah siapkan saluran distribusinya lalu lakukan promosi atau kampanye secara masif. Pastikan kampanye promosi yang Anda lakukan sebanding dengan distribusi produk Anda. Kalau Anda bergerak di bidang manufaktur, selain marketingnya yang jor-joran, produksi dan distribusinya juga harus jor-joran. Kalau Anda bergerak di bidang jasa, selain marketingnya yang jor-joran, proses after sales atau pelayanan customernya juga harus jor-joran.

Itulah strategi bisnis yang dilakukan oleh Le Minerale, Si Pesaing Terberat AQUA. Semoga Anda bisa mendapatkan ide untuk bisa diimplementasikan pada bisnis Anda.

Sumber Artikel : YouTube Dewa Eka Prayoga

Kisah Yang Inspiratif : Penebang Kayu dan Kapaknya

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja sebagai penebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.  

  Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.   Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon- pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Kisah Inspiratif Seorang Penebang Kayu - Garis Lengkung

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”  

  “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.   “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, di hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah tajam, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak-mu yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Mengasah Kapak – Sukacita Sehat Sukses

Sekarang mulailah mengasah kapak-mu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan.   Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak, benar saja sejak setelah kapaknya selesai diasah lagi dia berhasil menebang lebih banyak.   Ada sebuah pepatah Tiongkok Kuno yang mengatakan bahwa:  

Istirahat bukan berarti berhenti. Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon yang setiap hari hanya memikir untuk kerja menebang pohon saja tanpa memikirkan Pembaruan pada peralatannya apalagi refreshing, kita pun kadang setiap hari dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk, dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain dari kehidupan kita yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, menambah wawasan, dan spiritual.   Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas.

Tentu, tidak akan banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang telah tumpul dan aus. Tidak akan ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang telah renta. Tidak ada sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan karier yang penuh dan berlimpah? Zaman berubah dengan cepat. Ilmu pengetahuan yang kita dapatkan di bangku sekolah tidak lagi cukup untuk bisa mengajarkan kita bekerja dengan lebih produktif dan efektif di jaman sekarang. Bekerja keras adalah baik, tetapi bekerja keras dan cerdas akan menghasilkan lebih banyak. Karena itu tetaplah belajar. Ada saat kita fokus bekerja, ada saat kita fokus mengasah gergaji kita, memperbaharui ilmu dan pengetahuan kita.

Jadi… apakah saat ini kita hanya bekerja keras, atau juga bekerja cerdas?